Kamis, 24 Juni 2010

MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN UMAT MELALUI BUDAYA MEMBACA

Pepatah mengatakan kunci ilmu itu membaca, sedangkan gudang ilmu itu buku. Dalam islam ilmu menduduki posisi yang sangat penting; kewajiban kita sebelum beramal adalah berilmu, selanjutnya adalah berdakwah dan bersabar di jalanNya.


Ilmu memiliki posisi yang sangat penting, dan jika dikaitkan dengan pepatah teresebut, maka untuk ‘membuka’ ilmu, kita harus memiliki ‘kunci’nya yaitu membaca.

Namun permasalahannya apakah membaca sudah menjadi kebiasaan pada masyarakat Indonesia, khususnya umat islam yang notabenenya 87% dari jumlah penduduk Indonesia, maka jawabannya adalah sebagai berikut:

Berdasarkan hasil temuan UNDP, posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Untuk Kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos. Masing-masing berada di urutan angka seratus. Apa pun alasannya, posisi Indonesia yang terlalu rendah dalam minat baca ini tentu sangat memprihatinkan bagi bangsa yang mengklain sebagai bangsa besar. (Kurnia, 2008)

Fakta ini adalah bukti tak terbantahkan tentang keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Khususnya umat islam, hal ini merupakan kelemahan terbesar mengapa sulit bagi Umat ini untuk maju dan merakit kembali peradabannya yang dulu pernah bersinar.
Keadaan umat Islam sekarang ini masih terbelakang di berbagai bidang, padahal dulunya umat ini pernah memimpin dunia. Umat islam sekarang berada pada titik terendah, padahal dulunya berada pada puncak tertinggi. Sekarang umat ini menjadi bawahan, padahal dulunya adalah pemimpin.

Seorang penyair arab berkata:
Begitu banyak ‘tangan ‘ yang mengatur kita, padahal dulu kita yang mengaturnya
Ada bangsa yang menguasai kita, padahal dulu kita yang menguasainya
Jika dianalisis lebih lanjut, keterpurukan dan keterbelakangan umat islam saat ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya kesadaran umat untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu, budaya berliterasi yang masih minim, dan kemauan untuk membaca yang masih rendah, padahal membaca adalah kunci dari semuanya.

Bisa dikatakan, saat ini, budaya membaca, berliterasi, melakukan penelitian dan lain-lain sebagainya adalah milik barat, namun tahukah kita sebelum barat bangkit dari jaman jahiliahnya dengan sistem gereja (renaissance), maka kitalah (umat Islam) yang lebih unggul dibandingkan mereka sekarang dalam segala hal.

Mari kita ber’nostalgia’ sejenak tentang sejarah umat islam masa lalu yang sungguh luar biasa. Peradaban islam pada masa-masa kejayaan dan keemasannya telah mmemenuhi dunia islam dengan cahaya ilmu yang menghiasi rumah-rumah, masjid-masjid, sekolah-sekolah, forum-forum, majelis-majelis dan toko-toko buku sehingga benar apa yang dikatakan gustav lebon: “kecintaan bangsa arab terhadap ilmu-ilmu besar sekali. Mereka telah mencapai puncak kebudayaan yang sangat tinggi setelah mereka menyelesaikan penaklukan-penaklukan dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karena itulah, mereka mampu membangun sebuah peradaban yang membuat ilmu-ilmu pengetahuan, sastra dan seni menjadi matang, dewasa dan mencapai puncaknya.

Dulu pada zaman Rasululloh saw dan para khalifah, umat islam tidak bisa dilepaskan dari al-qur’an dan as sunah, selain itu semangat mereka ‘menggali’ ilmu pengetahuan sangat tinggi, membuat kitab-kitab fenomenal, penerjemahan buku-buku dari bangsa yunani dan romawi yang sangat menggeliat, melakukan penelitian-penelitian di berbagai bidang disiplin ilmu, dibangunnya perpustakaan-perpustakaan di pusat-pusat perkotaan seperti Mekkah, Madihah, Bahgdad, kairo sampai ke Andalusia, merupakan salah satu bukti bahwa dulu umat ini pernah mengalami fase yang ‘sehat’.
Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan sekarang? Kejayaan islam di masa lalu, runtuhnya kejayaan itu oleh ulah umatnya sendiri, bukan hanya kita renungi dan ratapi, tapi kita harus jadikan ini sebagai hikmah yang sangat berharga untuk kemajuan umat islam di masa yang akan datang. Ingat prinsip perubahan 3M; mulai diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil dan mulai saat ini.

Tentu, bagi setiap umat islam yang ‘sehat’ bangkitnya umat islam, terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang madani dan terbentuknya daulah islamiyyah adalah adalah sebuah cita-cita yang tinggi, peradaban yang besar, dimulai dari minat baca yang besar.
Maka dari itu, marilah kita renungi kembali makna dari 5 ayat pertama yang Allah turunkan kepada Rasululloh SAW melalui perantaraan malaikat jibril:
Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS Al-Alaq 1-5)

Wallahu a’lam

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger